Oleh: atmanroja | 7 Juni 2010

MENGEMBALIKAN KEJAYAAN KEDELAI DI SUMATERA BARAT


Lai amuah kami batanam kedelai, tapi lai bisa apak manjamin urang nan kamambalinyo? (Kami mau bertanam kedelai, tetapi bisakah bapak menjamin adanya pembeli?). Demikian celoteh sebagian besar petani di Sumatera Barat ketika disarankan untuk membudidayakan kembali tanaman kedelai pada lahan-lahan mereka yang terlantar dan berpotensi untuk memproduksi kedelai.


CERITA di atas merupakan kondisi nyata saat ini di Sumatera Barat. Sebagian besar petani sudah enggan untuk membudidayakan tanaman kedelai dengan salah satu alasan, yaitu “pasar tidak menjamin”. Data menunjukkan, produksi kedelai di Sumatera Barat tidak stabil dari tahun ke tahun dan bahkan cenderung menurun sejak tahun 2000-2004. Bila dibandingkan produksi kedelai tahun 1996 dengan tahun 2004, terjadi penurunan yang drastis, mencapai 90 persen (tahun 1996 produksi 13.408 ton dan tahun 2004 hanya 1.575 ton). Produksi kedelai hanya tinggi pada tahun 2000 (12.686 ton), karena pada tahun sebelumnya pemerintah mencanangkan Program Aksi ”GEMA PALAGUNG” (Gerakan Mandiri Padi, Kedelai, dan Jagung).
Pelaku pasar, seperti industri berbahan baku kedelai (tahu dan tempe) juga enggan membeli kedelai lokal. Mereka lebih menyukai kedelai impor dengan alasan, selain harganya lebih murah, mutunya juga lebih baik dibanding kedelai lokal. Alasan pertama (harga lebih murah), dapat diterima. Ini dikarenakan produktivitas kedelai di Amerika mencapai 3,5 t/ha (hampir 3 kali lipat produktivitas di Sumatera Barat) sehingga biaya produksi per kg menjadi jauh lebih murah dibanding kedelai asal Sumatera Barat. Kondisi ini diperkuat lagi makin beruntungnya pengimpor kedelai karena mendapat kredit ekspor dan L/C mundur dengan periode bayar yang panjang dari negara pengekspor serta kebijakan tarif 0% sehingga kedelai impor banyak menguasai pasar lokal.
Alasan kedua (mutu lebih baik), tidak sepenuhnya benar. Menurut Ketua Koperasi Produsen Tahu dan Tempe Indonesia (Kopti) Jawa Barat, sebenarnya kedelai impor dari Amerika berkualitas rendah dan lebih cocok untuk pakan ternak. Di Eropa dan Jepang, kedelai seperti ini tidak dapat diterima. Namun, karena pasokan kedelai lokal sering tidak ada, kita terpaksa menerima kedelai impor. Hasil penelitian Badan Litbang Pertanian juga mendapatkan bahwa telah didapatkan beberapa varietas unggul baru (VUB) kedelai lokal yang memiliki mutu lebih baik dari kedelai impor, diantaranya VUB Burangrang dan Bromo.
Jika pengusaha industri tahu dan tempe di Sumatera Barat beralih menggunakan kedelai lokal maka sangat banyak rupiah yang dapat berputar dan dipertahankan di wilayah Sumatera Barat yang tentu saja dapat membantu pengembangan ekonomi masyarakat khususnya petani sehingga kesejahteraannya meningkat. Hasil penelitian terhadap 18 industri besar tahu dan tempe di Sumatera Barat didapatkan bahwa mereka membutuhkan sekitar 241,05 ton kedelai per bulan atau setara dengan 2.892,6 ton per tahun. Bila harga kedelai rata-rata Rp.4.000,- maka sebanyak Rp.11,57 milyar per tahun tetap berada dan berputar di Sumatera Barat. Nilai ini akan bertambah lagi, jika diperhitungkan juga industri tahu dan tempe kelas menengah ke bawah.
Berdasarkan kondisi di atas, perlu kembali secara bersama-sama “mambangkik batang tarandam” sehingga kedelai kembali jaya di Ranah Minang. Keterlibatan seluruh stakeholder baik pemerintah propinsi/kabupaten/kota, lembaga penelitian (BPTP Sumbar), pengusaha, dan petani, tentu saja sangat diharapkan dalam rangka membangun sistem usaha agribisnis kedelai yang saling menguntungkan. Untuk itu, diperlukan gerakan berbentuk program yang dikomandoi oleh pemerintah kabupaten/kota, misalnya Gerakan Pengembangan (Gerbang) Kedelai Kabupaten Solok (nama disesuaikan untuk masing-masing kabupaten/kota). Dalam hal ini, pemerintah kabupaten/kota sebagai penyedia program/dana pengembangan kedelai ayng dianggarkan dalam APBD, lembaga penelitian (BPTP Sumbar) sebagai penyedia dan pendampingan teknologi, petani sebagai produsen kedelai, dan pengusaha sebagai konsumen kedelai atau penjamin pasar. Tentu saja gerakan ini memerlukan komitmen yang kuat agar keberlanjutan usaha yang saling menguntungkan dapat terjamin dan dalam jangka waktu yang cukup lama, paling tidak selama lima tahun ke depan atau sampai swasembada kedelai tahun 2014 dapat dicapai.
Strategi yang berpeluang ditempuh untuk mendukung gerakan di atas, paling tidak ada melalui tiga cara, yaitu: (1) Peningkatan produktivitas; (2) Perluasan areal tanam; dan (3) Perubahan “mindset” (pola pikir) pelaku usaha.
Peningkatan produktivitas dapat dilakukan pada wilayah-wilayah sentra produksi kedelai yang produktivitasnya tergolong rendah dengan mempertimbangkan beberapa hal, yaitu: kendala produksi yang minimal (tanah dan iklim sesuai sampai cukup sesuai), peluang keberhasilan yang cukup tinggi, prasarana pendukung cukup baik, dan ketersediaan SDM (petani) yang terampil. Hampir seluruh wilayah di Sumatera Barat termasuk golongan produktivitas rendah. Data menunjukkan, di tingkat petani Sumatera Barat, produktivitas kedelai hanya berkisar antara 0,8 sampai 1,2 t/ha sedangkan potensi hasilnya bisa mencapai 2 t/ha. Bahkan, bila dibudidayakan di lingkungan yang subur mampu menghasilkan 2,5-3 t/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keuntungan bertanam kedelai baru bisa diperoleh bila produksi minimum 1 t/ha. Artinya, meskipun produksi petani mencapai 1,2 t/ha, keuntungan yang didapat petani sangat sedikit. Disini, BPTP Sumbar berperan dalam menyediakan dan mendampingi teknologi untuk meningkatkan produktivitas kedelai di tingkat petani.
Melalui perluasan areal tanam, potensi terbesar pertama pengembangan kedelai adalah di lahan sawah. Berdasarkan tipe irigasi, seluas 50.688 ha lahan sawah tadah hujan, 50.858 ha lahan sawah irigasi desa, dan 43.790 lahan sawah irigasi sederhana berpotensi untuk budidaya kedelai setelah padi sawah. Biasanya, sebagian besar lahan ini dibiarkan bera setelah panen padi untuk waktu cukup lama (1-3 bulan). Pemanfaatan lahan tersebut untuk budidaya kedelai dapat meningkatkan indeks pertanaman yang hanya 170% menjadi 200-250% per tahun, dengan pola tanam padi-kedelai-padi. Potensi terbesar kedua untuk perluasan areal tanam adalah di lahan kering, yaitu sekitar 590.450 hektar, terutama lahan tegalan seluas 319.375 ha dan ladang/huma 160.565 ha. Disini, pemerintah kabupaten/kota berperan sebagai penyedia program/dana untuk pengembangan kedelai di lahan sawah dan lahan kering yang dianggarkan dalam APBD masing-masing kabupaten/kota.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani kedelai pada lahan sawah mempunyai prospek yang sangat baik karena selain kedelai berumur pendek (2,5-3 bulan) juga produksinya di lahan sawah lebih tinggi dibanding di lahan kering, yaitu 2,5-3,0 t/ha. Keuntungan lain yang didapat adalah putusnya siklus hidup hama dan penyakit padi serta dapat melaksanakan usaha optimasi pola tanam di lahan sawah. Jika seluruh lahan sawah tadah hujan saja yang dimanfaatkan untuk pertanaman kedelai, maka Propinsi Sumatera Barat akan dapat menghasilkan kedelai sebanyak 126.720-152.064 ton per tahun. Jika harga kedelai sebesar Rp.4.000 per kg maka akan didapat tambahan pendapatan sebesar Rp.506,880-608,256 milyar per tahun sebelum dikurangi biaya usahatani. Pendapatan ini akan meningkat lagi jika lahan sawah beririgasi sederhana dan irigasi desa yang tidak ditanami pada saat musim kemarau juga dimanfaatkan untuk pertanaman kedelai.
Jika dikaitkan dengan kejadian pasca gempa 30 September 2009 di Sumatera Barat dimana banyak saluran irigasi yang terputus sehingga petani tidak bisa lagi berusahatani padi secara optimal, maka usahatani kedelai di wilayah terkena bencana tersebut sangat memungkinkan. Hal ini akan membantu percepatan pemulihan perekonomian mereka secara berangsur-angsur. Sambil menunggu saluran irigasi kembali lancar untuk bertanam padi, mereka bisa memanfaatkan lahan dengan beralih ke komoditas lain, termasuk kedelai.
Perubahan “mindset” pelaku usaha, dapat dilakukan melalui kegiatan diseminasi/penyuluhan dengan sasaran utama bukan saja petani akan tetapi juga pelaku industri tahu dan tempe. Dengan cara ini, diharapkan pola pikir mereka akan berubah khususnya mereka akan berpikir bahwa mutu kedelai lokal lebih baik dibanding kedelai impor sehingga petani akan lebih bergairah bertanam kedelai karena pasar terjamin. Selanjutnya pengusaha tahu dan tempe lebih suka membeli kedelai lokal karena mutunya lebih baik, mudah didapatkan, dan harga lebih murah.
Kegiatan diseminasi dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung, antara lain: seminar, lokakarya, gelar teknologi, demonstrasi budidaya varietas unggul baru, demonstrasi pengolahan varietas unggul baru menjadi tahu dan tempe, serta penyebaran keunggulan kedelai lokal melalui: leaflet, brosur, buku, radio, surat kabar, situs web, televisi, dan lain-lain. Disini, BPTP Sumbar dan pemerintah kabupaten/kota berperan secara bersama-sama dalam merubah “mindset” pelaku usaha kedelai ini. (ATR).

Terbit pada Harian Independen Singgalang, 10 Juni 2010, dengan judul “Mengembalikan Kejayaan Kedelai.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: