Oleh: atmanroja | 6 Juni 2009

MENSIASATI MAHAL DAN LANGKANYA PUPUK BUATAN


”Alah maha, langka pulo lai”. Begitu cilotehan petani Sumatera Barat manakala menemukan situasi sulitnya mendapatkan pupuk buatan atau kalau ada tersedia di pasar, harganya relatif mahal.
Dalam rangka membantu petani dalam proses produksi pertanian, pemerintah menyediakan sarana produksi pertanian yang bersubsidi, utamanya pupuk buatan. Harga pupuk untuk petani lebih rendah dari pada harga pupuk untuk perkebunan besar. Persis seperti BBM, dimana BBM untuk masyarakat umum jauh lebih rendah harganya dibanding harga BBM untuk kebutuhan industri besar. Permasalahannya, seringkali pupuk yang disubsidi untuk petani sukar ditemukan di pasar bahkan pada waktu-waktu tertentu mengalami kelangkaan. Ini antara lain disebabkan spekulasi pedagang yang menjual pupuk bersubsidi ke perkebunan besar bahkan menyeludupkannya ke laur negeri.
Akibat langkanya pupuk, secara otomatis harga menjadi mahal. Imbasnya, biaya yang dikeluarkan petani untuk kegiatan budidaya tanaman semakin bertambah sehingga pendapatan petani menjadi berkurang. Bagi petani yang mampu, mahalnya harga tidak mengurangi jumlah pupuk yang diberikan untuk tanamannya. Sebaliknya petani miskin memberi pupuk lebih rendah dari yang dibutuhkan tanaman. Resikonya, hasil menurun.
Rekomendasi pupuk buatan (an organik) untuk padi sawah di Sumatera Barat adalah 200 kg Urea, 100 kg SP36, dan 100 kg KCl per hektar yang diberikan secara sebar rata. SP36 dan KCl diberikan saat tanam, sementara itu Urea diberikan 2-3 kali selama pertanaman. Jika rekomendasi ini diterapkan oleh petani di Sumatera Barat dengan luas areal padi sawah 236.748 hektar, maka dibutuhkan sekitar 47,35 juta kg Urea, 23,675 juta kg SP36, dan 23,675 juta kg KCl. Dengan asumsi petani membeli pupuk di kios sebesar Rp.1600 untuk Urea, Rp.2500 untuk SP36, dan Rp.2500 untuk KCl maka diperlukan dana sebesar Rp.75,76 milyar untuk membeli Urea, Rp.59,19 milyar untuk membeli SP36, dan Rp.59,19 milyar untuk membeli KCl. Jelaslah dibutuhkan dana yang amat besar.
Dalam rangka mengurangi ketergantungan terhadap pupuk buatan serta mensiasati mahal dan langkanya pupuk buatan, lembaga riset berusaha menemukan teknologi yang mampu mengefisienkan penggunaan pupuk buatan tanpa menurunkan hasil. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat di Sukarami Solok sebenarnya telah menemukan teknologi tersebut beberapa tahun lalu, antara lain teknologi P-starter, BWD (bagan warna daun), dan pupuk organik. Di bawah ini akan dijelaskan secara ringkas tentang teknologi tersebut.
Teknologi P-starter
Penggunaan pupuk P (TSP/SP36) secara terus-menurus sejak diterapkannya program intensifikasi 30 puluh tahun lalu menyebabkan terjadinya timbunan (akumulasi) P dalam tanah sawah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak tanggapnya tanaman terhadap pemupukan P pada pasi sawah di Sumatera Barat antara lain disebabkan tingginya kadar P tanah. Untuk memanfaatkan timbunan P dalam tanah sawah ini dapat dilakukan dengan teknologi P-starter. Teknologi ini tidak saja dapat diterapkan pada tanah sawah yang berkadar P tinggi, tetapi hasil penelitian di Madagaskar juga efektif pada tanah sawah yang berkadar P rendah. Teknologi ini sebenarnya telah dikenal petani dulunya dengan nama ”baluma” atau ”bacacah”. Caranya adalah dengan mencelupkan akar bibit padi sebelum tanam ke dalam larutan bunga lumpur yang mengandung 2% pupuk SP36 atau setara dengan 20 kg SP36/ha. Jika cara ini diterapkan untuk lahan sawah di Sumatera Barat maka dapat dihemat dana sebesar Rp.74 milyar setahun atau setara dengan Rp.200.000 per hektar per musim tanam.
Teknologi BWD
Untuk mendapatkan pertumbuhan padi yang baik, petani cenderung menggunakan pupuk Urea secara berlebihan. Padahal cara ini selain pemborosan, tetapi juga dapat menyebabkan tanaman peka terhadap penyakit dan mudah rebah serta merusak struktur kimia tanah bila berlangsung lama. Teknologi BWD atau Bagan Warna Daun atau LCC=Leaf Color Chart dikenal dapat mengefisienkan pemakaian pupuk Urea. Hasil penelitian beberapa lokasi di Sumatera Barat dan di Indonesia, teknologi ini bahkan dapat mengurangi pemakaian pupuk Urea sampai separoh dari rekomendasi (200 kg/ha), yaitu hanya 100 kg/ha tanpa menurunkan hasil. BWD adalah sebuah kotak skala warna berbentuk segi empat dan mempunyai 4 kotak skala warna mulai dari hijau muda hingga hijau tua. Melalui kotak skala warna ini dapat diketahui kecukupan N (Urea) pada tanaman padi sehingga dapat diketahui apakah tanaman perlu segera diberi pupuk Urea atau tidak. Alat ini dapat digunakan dengan mudah. Sebelum tanaman padi berumur 14 hari, terlebih dulu di pupuk sebanyak 50-75 kg Urea/ha. Umur 4 minggu diawali penggunaan BWD setiap seminggu sekali sampai fase primordia dengan mengamat 10 rumpun sampel tanaman sehat. Bila lebih dari separo sampel di bawah skala 4 (batas kritis) maka dilakukan pemupukan. Jika cara ini diterapkan untuk lahan sawah di Sumatera Barat maka dapat dihemat dana sebesar Rp.59 milyar setahun atau setara dengan Rp.160.000 per hektar per musim tanam.
Pupuk organik
Pupuk organik (kompos jerami, pupuk kandang, dan pupuk hijau) merupakan salah satu alternatif untuk mengurangi pemakaian pupuk buatan. Pemberian pupuk organik bermanfaat untuk meningkatkan kesuburan tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemakaian pupuk kandang dapat meningkatkan ketersediaan posfat dua sampai tiga kali lebih besar dibandingkan tanpa pemakaian pupuk kandang. Selain itu, keracunan Al dan Mn dapat diatasi dengan pemberian pupuk organik ke dalam tanah. Untuk itu, sudah seharusnya petani tidak lagi membakar jerami yang ada tetapi mengolah jerami menjadi kompos. BPTP Sumatera Barat telah memiliki teknologi untuk mempercepat terjadinya proses pelapukan jerami dengan menggunakan Trichoderma harzianum. Jerami yangbiasanya lapuk setelah 2 bulan dibenamkan ke sawah, dengan teknologi BPTP Sumbar dapat dipercepat menjadi 19 hari Berdasarkan uraian di atas, penulis mengajak pemerintah baik propinsi, kabupaten atau kota untuk menggalakkan program ”Hemat biaya hemat pupuk”. Tentu saja dengan memasyarakatkan teknologi tersebut pada petani padi sawah dengan cara memprogramkannya dalam bentuk kegiatan pada anggaran mendatang. Semoga. Ir. Atman Roja (Peneliti BPTP Sumbar, Sukarami-Solok).


Responses

  1. […] MENSIASATI MAHAL DAN LANGKANYA PUPUK BUATAN « ATMAN ROJA […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: