Oleh: atmanroja | 5 Juni 2009

MENSIASATI LANGKANYA BURUH TANI


Karatau madang di ulu, babuah babungo balun, marantau dagang dahulu, di rumah paguno balun. Pantun di atas menggambarkan budaya turun temurun masyarakat Minangkabau yang suka merantau. Banyak nilai positif yang didapat dari budaya merantau. Namun disisi lain, ada juga dampak negatifnya terhadap perkembangan pembangunan pertanian di Sumatera Barat, utamanya terbatasnya tenaga kerja (buruh tani) untuk usaha bidang pertanian di pedesaan. Keterbatasan tenaga kerja ini diperparah lagi dengan kurangnya minat (enggannya) generasi muda berkerja (berusaha) di bidang pertanian.Dari data statistik tahun 2002, jumlah penduduk Sumatera Barat sekitar 4,375 juta jiwa. Dari jumlah angkatan kerja yang ada, 50,3% adalah angkatan kerja yang bekerja pada lapangan usaha utama sektor pertanian atau setara dengan 859.327 jiwa. Jumlah tersebut tersebar pada semua kegiatan mulai dari pengolahan tanah, sampai panen atau pasca panen dalam sistem produksi baik pertanian tanaman pangan ataupun usaha pertanian perkebunan.
Jika semua kegiatan usahatani menggunakan tenaga kerja manusia, potensi tenaga kerja yang tersedia sangat tidak seimbang. Sebagai contoh, dengan luas panen padi sawah 406.758 ha/tahun serta jumlah tenaga kerja 859.327 jiwa maka untuk setiap hektar sawah hanya tersedia tenaga 2,11 jiwa.
Kondisi yang tidak seimbang tersebut kemungkinan merupakan salah satu alas an kenapa pengelolaan usahatani tidak dilakukan secara intensif. Dampaknya, seringkali kita menyaksikan lahan, utamanya lahan sawah tadah hujan yang dibiarkan kosong tanpa ada tanaman (bera) setelah panen padi dalam waktu yang relatif lama (3-4 bulan). Pada hal, di masa bera tersebut lahan masih dapat dimanfaatkan untuk budidaya tanaman non padi sawah seperti kedelai atau palawija lainnya. Alasan yang sering dikemukakan petani salah satunya adalah sulitnya mencari buruh tani untuk pengelolaan usahataninya.
Penggunaan teknologi alsintan (alat dan mesin pertanian) merupakan salah satu cara untuk mengatasi kelangkaan buruh tani. Namun cara ini membutuhkan biaya yang cukup besar yang tidak mampu dijangkau oleh petani terutama petani kecil (gurem). Cara lain yang lebih efisien dan menguntungkan adalah menggunakan teknologi yang sedikit menyerap tenaga kerja.
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat sejak beberapa tahun yang lalu telah mengembangkan teknologi budidaya kedelai tanpa olah tanah (TOT) sesudah padi sawah, atau dikenal juga dengan nama “zero tillage”. Teknologi ini dikembangkan sebagai antisipasi terbatasnya tenaga kerja di Sumatera Barat dan sekaligus memanfaatkan sisa ketersediaan air tanah pada saat panen padi, terutama di daerah-daerah yang beririgasi sederhana atau lahan sawah tadah hujan. Diketahui bahwa pada lahan sawah di bawah lapisan olah terdapat lapisan berkadar besi dan mangan yang tinggi. Hal ini menyebabkan persediaan air tanah terbatas pada lapisan atas saja. Bila penanaman kedelai sesudah padi dilakukan pengolahan tanah menyebabkan air tanah akan menguap sehingga tanah cepat menjadi kering dan kedelai yang ditanam akan terhalang pertumbuhannya serta juga akan menyebabkan tertundanya waktu tanam.
Hasil penelitian di Indonesia dan Filipina menunjukkan bahwa hasil kedelai yang ditanam sesudah padi sawah tanpa olah tanah lebih baik dibandingkan dengan yang tanahnya diolah karena pada tanah yang diolah air menguap lebih cepat sehingga persediaan air tanah tidak mencukupi untuk pertumbuhan tanaman. Selain itu, pengolahan tanah menyebabkan tertundanya waktu tanam sehingga tanaman akan mengalami kekeringan pada stadia perkembangan dan pengisian biji, khususnya di musim kemarau. Penanaman kedelai di lahan sawah sesudah panen padi sangat besar artinya dalam meningkatkan efisiensi pemanfaatan sawah tadah hujan atau yang beririgasi sederhana sehingga dapat meningkatkan Indeks Pertanaman (IP). Di Sumatera Barat luas lahan tersebut mencapai 150.678 ha, yang terdiri dari sawah tadah hujan 51.948 ha dan sawah beririgasi sederhana 98.730 ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani kedelai pada lahan sawah mempunyai prospek yang baik karena selain kedelai berumur pendek (2,5-3 bulan) juga produksinya di lahan sawah lebih tinggi dibanding di lahan kering, yaitu 2-2,5 t/ha. Keuntungan lain yang didapat adalah putusnya siklus hidup hama dan penyakit padi serta dapat melaksanakan usaha optimasi pola tanam di lahan sawah. Jika seluruh lahan sawah tadah hujan dimanfaatkan untuk pertanaman kedelai, maka Propinsi Sumatera Barat akan dapat menghasilkan kedelai sebanyak 103.896-129.870 ton per tahun dari lahan sawah tadah hujan. Jika harga kedelai sebesar Rp.3.000 per kg maka akan didapat tambahan pendapatan sebesar Rp.311,688-389,610 milyar per tahun. Pendapatan ini akan meningkat lagi jika lahan sawah beririgasi sederhana yang tidak ditanami pada saat musim kemarau juga dimanfaatkan untuk pertanaman kedelai.
Dalam rangka membantu para pengguna teknologi khususnya petani untuk mengaplikasikan teknologi TOT, dibawah ini disajikan teknik budidayanya, utamanya mengenai persiapan lahan, penanaman, inokulasi rhizobium, pemberantasan gulma, pengairan, dan pemupukan.
Persiapan lahan. Persiapan lahan sangat menentukan agar kedelai tumbuh dan berproduksi dengan baik. Terlebih dahulu sawah dikeringankan 1-2 minggu sebelum panen padi agar tanah tidak terlalu becek waktu menanam kedelai. Usahakan sesudah padi dipanen, populasi gulma (tumbuhan pengganggu) sangat sedikit, permukaan tanah tidak keras, dan tanahnya subur. Waktu panen padi, tunggul jerami dipotong sekitar 20-30 cm dari permukaan tanah yang bertujuan untuk mencegah pertumbuhan tunas baru dan memudahkan penanaman kedelai. Selain itu, juga berfungsi menghalangi hama lalat bibit kacang meletakkan telur pada keping biji sehingga tanaman mati dan terserang menjadi berkurang. Oleh karena kedelai tidak tahan kekeringan dan genangan air maka diperlukan pembuatan saluran drainase sebelum bertanam dengan jarak 3-5 m dan kedalaman 20-30 cm. Saluran ini selain mengalirkan air supaya tidak tergenang juga berfungsi untuk pengairan bila tanaman mengalami kekeringan, khususnya bila air irigasi tersedia.
Penanaman. Kendala lain dalam bertanam kedelai sesudah padi sawah adalah masa tanam yang singkat setelah panen padi. Dianjurkan paling lambat lima hari setelah panen padi, kedelai sudah selesai ditanam. Keterlambatan tanam bisa mengganggu pertumbuhan kedelai karena gulma sudah mulai tumbuh dan persediaan air tanah berkurang bila hujan tidak turun sehingga tanah kering dan keras. Penanaman sebaiknya dilakukan secara tugal menggunakan pola bujur sangkar dengan jarak tanam 20×20 cm atau 25×25 cm atau disesuaikan dengan jarak tanam padi. Lubang tanam sedalam 3-5 cm dibuat disamping tunggul jerami dan diisi 2-3 biji per lubang, lalu ditutup dengan tanah agar tidak tergenang air jika hujan turun. Inokulasi rhizobium.
Kedelai merupakan salah satu tanaman kacang-kacangan yang bersimbiose dengan bakteri rhizobium yang membentuk koloni sebagai bintil akar dan berfungsi dalam penyediaan hara nitrogen. Bakteri ini terdapat pada tanah-tanah yang pernah ditanami kedelai dan sebaliknya pada tanah yang belum pernah ditanami kedelai atau kacang-kacangan lainnya. Untuk itu, pada tanah-tanah yang belum pernah ditanami kedelai perlu dilakukan penularan (inokulasi) bakteri kedalam tanah dengan cara mencampurkan benih kedelai kedalam inokulasi buatan (nitragin atau legin) sebanyak 5-10 g inokulum/kg benih. Jika inokulum buatan tidak tersedia, benih kedelai dapat dicampur dengan bekas tanah yang ditanami kedelai sebanyak 100-250 g/kg benih.
Pemberantasan gulma. Segera setelah tanam, jerami sebanyak 5 t/ha dihamparkan di atas permukaan tanah. Cara ini dapat menghambat pertumbuhan gulma dan mengurangi penguapan air tanah serta mencegah serangan hama lalat bibit kacang. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa cara ini dapat meningkatkan hasil kedelai sampai 30% dan mengurangi biaya yang dikeluarkan untuk penyiangan serta pembelian insektisida. Pemberian mulsa jerami dianjurkan bila saluran drainase sudah baik dan tidak musim hujan karena jika lahan terlalu lembab dapat membantu berkembangnya jamur/cendawan patogenik yang membahayakan. Jika gulma dipertanaman masih banyak perlu dilakukan penyiangan. Yang perlu diperhatikan, jangan dilakukan penyiangan pada saat tanaman kekeringan dan saat berbunga karena dapat menambah keringnya tanah dan gugurnya bunga kedelai.
Pengairan. Tanaman kedelai sedikitnya memerlukan tiga kali pengairan yakni saat tanam, periode pembungaan, dan pembentukan polong. Bila tidak ada hujan (tanaman kekeringan) sedangkan air irigasi tersedia juga dapat diairi 1-2 minggu sekali hingga tanah menjadi lembab dengan lama penggenangan 15-30 menit, lalu airnya dikeluarkan dari petakan.
Pemupukan. Jumlah pupuk yang diberikan untuk tanaman kedelai sesudah padi sawah masih menjadi dilema karena sangat tergantung pada respon varietas kedelai, kesuburan tanah, dan jumlah pupuk yang diberikan pada tanaman padi sebelumnya. Bila varietas tidak respon dan tanah cukup subur maka pemupukan tidak perlu dilakukan. Dianjurkan pemberian pupuk 50 kg Urea+75 kg TSP+75 kg KCl per hektar pada tanah Grumosol atau 100 kg Urea+75 kg TSP+100 kg KCl per hektar pada tanah Hidromorf. BPTP Sumbar menyarankan pemberian 50-100 kg Urea ditambah 75-100 kg TSP ditambah 50-100 kg KCl per hektar pada tanah-tanah yang kandungan NPK-nya rendah. Pupuk diberikan pada lubang tugal atau larikan dikiri-kanan lubang tanam dengan jarak 5 cm dari barisan tanaman.
Agar kedelai memberikan hasil yang tinggi, selain teknik budidaya di atas, yang juga perlu diperhatikan adalah penggunaan varietas unggul (Orba, Wilis, Kipas Putih, Galunggung, Guntur, Lokon, dll), pengendalian hama dan penyakit terutama hama polong (penggerek dan pengisap polong), serta panen dan perawatan hasil panen yang baik. Selamat mencoba !. Ir. Atman Roja. Penulis peneliti di BPTP Sumbar (Sukarami-Solok)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: