Oleh: atmanroja | 4 Juni 2009

STRATEGI PENGEMBANGAN KEDELAI DI LAHAN MASAM


PRODUKSI kedelai nasional pernah mencapai puncaknya tahun 1992, sebanyak 1.869.713 ton dengan luas panen 1.665.706 hektar. Setelah itu, produksi dan luas panennya terus menurun hingga hanya 677.531 ton dari 530.249 hektar pada tahun 2003. Dengan demikian, dalam 11 tahun, produksi kedelai merosot 63,76 persen dan luas panen berkurang 68,16 persen. Kondisi di Sumatera Barat malah menunjukkan penurunan produksi kedelai yang drastis, mencapai 90 persen (tahun 1996 produksi 13.408 ton dan tahun 2004 hanya 1.575 ton).

Namun demikian, berdasarkan data BPS, produksi kedelai pada 3 tahun terakhir mengalami peningkatan sebesar 3,75 persen. Hanya saja, produktivitasnya baru mencapai 1,3 t/ha, sedangkan potensi hasilnya dapat mencapai 2,5-3,0 t/ha. Kenyataan tersebut menunjukkan masih terdapat kesenjangan produktivitas sebesar 1,2-1,7 t/ha. Hal ini merupakan peluang untuk meningkatkan produksi kedelai.

Menurut Sutarto (Dirjen Tanaman Pangan Deptan RI), saat ini kebutuhan kedelai mencapai 2 juta ton per tahun, sedangkan produksi kedelai dalam negeri hanya 0,8 juta ton per tahun sehingga untuk memenuhinya diperlukan impor sebanyak 1,2 juta ton per tahun yang berdampak menghabiskan devisa negara sekitar Rp. 3 triliun per tahun. Selain itu, impor bungkil kedelai telah mencapai kurang lebih 1,3 juta ton per tahun yang menghabiskan devisa negara sekitar Rp. 2 trilliun per tahun.

Untuk mengantisipasi kenyataan tersebut, pemerintah telah mencanangkan program ”BANGKIT KEDELAI” (Pengembangan Khusus dan Intensif Kedelai) mulai tahun 2006 sampai 2010. Implementasi program Bangkit Kedelai ditempuh melalui 2 sub program, yaitu: (1) sub program peningkatan mutu intensifikasi melalui 3 rancang bangun (pengembangan pusat pertumbuhan, pengembangan usaha, dan pengembangan kemitraan); dan (2) sub program pengembangan kedelai pada lahan kering dan peningkatan intensitas pertanaman seluas 500.000 hektar selama 5 tahun.

Target peningkatan intensitas pertanaman pada lahan kering tentu saja dapat dicapai, karena sumberdaya lahan kering di Indonesia masih cukup luas bagi pengembangan areal pertanian. Belajar dari pengalaman, upaya perluasan areal tanam ke luar Jawa harus dilakukan karena tidak akan mungkin mengandalkan peningkatan produksi nasional hanya melalui intensifikasi (peningkatan produktivitas). Hal ini juga sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam program revitalisasi pertanian yang akan membuka lahan kering seluas 15 juta hektar bagi pembangunan sektor pertanian. Pengembangan areal baru tersebut dapat diarahkan ke pulau Sumatera, Sulawesi, dan Nusa Tenggara dengan sasaran masing-masing 0,8 juta, 0,5 juta, dan 0,2 juta hektar selama 5-6 tahun.

Luas lahan kering yang terdapat di Pulau Sumatera sekitar 5 juta hektar dan lahan terlantar sekitar 2,5 juta hektar. Di Sumatera Barat, potensi lahan kering untuk pengembangan tanaman pangan (termasuk kedelai) cukup luas, sekitar 590.450 hektar. Permasalahannya, sebagian lahan kering ini didominasi oleh lahan masam.
Sebenarnya pada tahun 1982-1985, perluasan areal tanam kedelai di Indonesia telah pernah dicoba, terutama di pulau Sumatera. Walaupun produksi kedelai pada saat itu dilaporkan meningkat, namun penanaman kedelai pada lahan masam tersebut tidak berkelanjutan yang disebabkan oleh berbagai persoalan.

Belajar dari pengalaman sebelumnya, sebenarnya Indonesia dapat memperluas areal tanam kedelai pada lahan masam, apabila ingin berswasembada kedelai. Khusus untuk Sumatera Barat, ada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) yang memiliki pengetahuan dan teknologi tepat guna spesifik lokasi untuk perbaikan lahan masam yang dapat dilakukan petani dengan berbagai pilihan. Kerjasama yang sinergis antara BPTP Sumatera Barat dengan dinas/instansi terkait seperti Dipertahorti Sumatera Barat dan Dinas Pertanian Kabupaten/Kota tentu saja akan dapat mempercepat tercapainya swasembada kedelai di Indonesia umumnya dan di Sumatera Barat khususnya.

Untuk meningkatkan produksi kedelai di lahan masam diperlukan strategi dengan paling tidak 2 pendekatan, yaitu: (1) penggunaan varietas unggul yang adaptif dan toleran pada kondisi lingkungan tersebut dan lebih efisien terhadap masukan; dan (2) aplikasi teknologi perbaikan kesuburan lahan. Untuk mencapai tingkat produktivitas yang menguntungkan, mengintegrasikan kedua pendekatan tersebut akan lebih efektif.

Penggunaan varietas unggul adaptif dan toleran lahan masam. Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi) Malang telah menemukan varietas unggul baru (VUB) kedelai yang adaptif dan toleran lahan masam. VUB tersebut antara lain: (1) Tanggamus (hasil rata-rata 1,7 t/ha, hasil tertinggi 2,8 t/ha); (2) Nanti (hasil rata-rata 1,6 t/ha, hasil tertinggi 2,5 t/ha); (3) Seulawah (hasil rata-rata 1,6 t/ha, hasil tertinggi 2,5 t/ha); dan (4) Ratai (hasil rata-rata 1,6 t/ha, hasil tertinggi 2,7 t/ha). Perlu diingat bahwa lahan masam bukan hanya mengandung Al dan Mn tinggi yang meracuni tanaman kedelai, tetapi kandungan hara N, P, K, Ca, Mg, dan hara lainnya rendah. Dalam kondisi lahan masam yang miskin hara, tidak mungkin ada varietas kedelai yang dapat tumbuh dan menghasilkan biji secara normal. Oleh karena itu, perluasan areal tanam kedelai pada lahan masam yang hanya mengandalkan penggunaan ”varietas adaptif dan toleran lahan masam” tidak akan berhasil dengan baik. Penggabungan dengan aplikasi teknologi perbaikan kesuburan lahan akan lebih memungkinkan keberhasilannya.

Aplikasi teknologi perbaikan kesuburan lahan. Mengambil pelajaran dari keberhasilan Brazil dalam mengembangkan kedelai pada lahan masam dan dari beberapa kasus di Indonesia yang juga dinilai berhasil, maka Dr. Sumarno (peneliti Puslitbangtan Bogor) menyarankan pengelolaan kedelai pada lahan masam difokuskan dan diprioritaskan pada ameliorasi tanah. Caranya, antara lain: (1) pengapuran untuk meningkatkan pH (derajat keasaman tanah) dan mengatasi keracunan Al; (2) ameliorasi pada lapisan tanah bawah (sub-soil) menggunakan gypsum; (3) pengkayaan fosfat tanah dengan pemupukan P dosis tinggi; (4) pengkayaan bahan organik dengan pengembalian residu tanaman dan pupuk kompos; (5) pengkayaan Kalium; (6) pengkayaan hara mikro terutama Zn, Fe, S, B, Mo, dan pemberian pupuk mikro dalam bentuk chelat atau fritted trace element (FTE); (7) pengkayaan mikroba yang bermanfaat dengan pemberian mikroba EM, IO.P.2000, mikoriza, dan lain-lain; dan (8) pemeliharaan kesuburan tanah dengan filosofi ”menjadikan lahan masam marjinal menjadi subur setiap tahunnya” dengan cara pengkayaan hara makro dan mikro, termasuk pencegahan erosi dan penyediaan sumber air irigasi.

Secara nasional, pencanangan penanaman kedelai di lahan kering telah dilakukan oleh Departemen Pertanian RI secara simbolis di Koto Agung Kabupaten Dharmasraya Propinsi Sumatera Barat pada tanggal 4 Desember 2005. Tentu saja ini merupakan titik awal dalam pengembangan kedelai di Indonesia umumnya dan di Sumatera Barat khususnya. Kita berharap, pencanangan ini bukan hanya sebagai simbol saja tetapi diikuti dengan kegiatan-kegiatan yang mengarah ke tujuan mencapai swasembada kedelai. Semoga. Ir. Atman Roja. Peneliti Madya pada BPTP Sumbar, tinggal di Sukarami Solok.


Responses

  1. mungkin ada gunanya untuk pengembangan kedelai di daerah kami.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: