Oleh: atmanroja | 4 Juni 2009

KETIKA SAWAH DIALIHFUNGSIKAN


BAGI orang Minangkabau, padi sangat besar artinya. Padi bukan hanya sebagai makanan pokok utama, tetapi juga memiliki arti dan makna lain yang lebih dari itu. Misalnya, padi dijadikan sebagai sumber falsafah hidup seperti yang banyak terdapat dalam kesusastraan Minangkabau. Contohnya, lieklah padi, samakin barisi samakin marunduak (lihatlah padi, semakin berisi semakin merunduk).
Saat ini di Sumatera Barat, posisi padi sudah mulai terancam ketika sawah berubah fungsi. Data yang ditampilkan Dipertahorti Sumbar pada salah satu harian terbitan Padang tanggal 8 Agustus 2006 sangat mencemaskan kita. Pada tahun 2001, luas lahan sawah yang tidak lagi diusahakan adalah 6.791 hektar, meningkat menjadi 9.702 hektar di tahun 2005. Artinya, dalam 5 tahun terjadi pengalihan fungsi lahan sawah seluas 2.911 hektar atau rata-rata 582 hektar per tahun. Semisal 1 hektar sawah menghasilkan padi rata-rata 5 ton maka pada tahun 2005 Sumatera Barat kehilangan produksi padi sebesar 48.510 ton. Ini bukan nilai yang kecil. Bila kondisi ini dibiarkan, bukan tidak mungkin akan terjadi devisit bahkan krisis padi di Sumatera Barat untuk beberapa tahun atau beberapa puluh tahun kedepannya.

Kita masih ingat, di era tahun 1980-an, ketika Ir.H.Azwar Anas menjadi Gubernur Sumatera Barat, ada kebijakan untuk tidak mengalihfungsikan lahan sawah produktif ke usaha non pertanian. Pada masa itu, kita masih dapat melihat sawah yang membentang di kiri kanan jalan raya di berbagai daerah. Seiring dengan pergantian zaman, kondisi tersebut mulai berkurang, utamanya di daerah perkotaan dan pinggiran kota di Sumatera Barat. Sawah-sawah produktif telah tergusur menjadi pabrik, jalan raya, perumahan, dan lain-lain. Dinginnya embun sawah sudah berubah menjadi percik debu beton dan asap pabrik atau kenderaan bermotor.

Tentu saja kondisi yang sudah terjadi ini tidak bisa dan tidak mungkin dikembalikan ke kondisi semula. Alternatif solusi dalam rangka mengantisipasi terjadinya devisit atau krisis padi di Sumatera Barat perlu dipikirkan. Kepala Dipertahorti Sumbar (Ir.Jhoni) memberikan jalan keluar cara meningkatkan produksi padi melalui: penggunaan benih bermutu dan menciptakan lahan subur tanpa pupuk buatan (pemanfaatan jerami padi sebagai kompos).

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat yang berkantor di Sukarami Solok juga memiliki beberapa teknologi tepat guna spesifik lokasi yang dapat dikembangkan untuk mengantisipasi terjadinya devisit atau krisis padi di Sumatera Barat. Salah satu teknologi tersebut dikenal dengan model Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT).
Model PTT merupakan pendekatan dengan penerapan berbagai komponen teknologi yang saling menunjang (compatible) satu sama lainnya dengan mempertimbangkan karakteristik biofisik lingkungan tanaman serta kondisi sosial, ekonomi, dan budaya petani setempat. Dengan demikian, akan terjadi sinergisme antar komponen teknologi dalam meningkatkan produktivitas tanaman. Dalam implementasinya, model PTT bersifat partisipatif, spesifik lokasi, dan dinamis karena kemajuan inovasi terjadi secara terus menerus.

Hasil penelitian di berbagai lokasi menunjukkan bahwa produktivitas dan efisiensi produksi padi sawah masih dapat ditingkatkan melalui pendekatan atau model PTT. Hal ini telah mendorong Badan Litbang Pertanian untuk mengembangkan model PTT padi sawah di beberapa daerah di Indonesia. Kerjasama yang sinergis antara BPTP Sumbar dengan Dinas Pertanian Propinsi/Kabupaten/Kota dalam mengembangkan model PTT tentu saja akan dapat meningkatkan produktivitas padi sawah sehingga kendala produksi padi akibat pengalihfungsian lahan sawah dapat diantisipasi lebih dini.

Pengembangan model PTT didasarkan pada masalah dan kendala yang ada di lokasi setempat yang diketahui melalui penelaahan partisipatif dalam waktu singkat (Participatory Rural Appraisal, PRA) dengan beberapa langkah kegiatan (Balitpa, 2005). Pertama, melaksanakan PRA di daerah pengembangan guna menggali masalah utama yang dihadapi petani, mengetahui keinginan dan harapan petani, dan memahami karakteristik lingkungan biofisik, kondisi sosial ekonomi, budaya petani setempat dan masyarakat sekitarnya. Kedua, menyusun komponen teknologi yang sesuai dengan karakteristik dan masalah di daerah pengembangan. Komponen teknologi tersebut bersifat dinamis karena akan mengalami perbaikan dan perubahan sesuai dengan perkembangan inovasi dan masukan dari petani dan masyarakat setempat. Ketiga, adalah menerapkan teknologi utama PTT.

Untuk tahap awal, komponen teknologi yang diintroduksi dalam pengembangan model PTT terdiri atas: (1) benih bermutu (kemurnian dan daya kecambah tinggi); (2) varietas unggul baru yang sesuai dengan karakteristik lahan, lingkungan, dan keinginan petani setempat; (3) bibit muda (<21 hari setelah sebar); (4) bibit ditanam 1-3 batang per lubang; (5) tanam jajar legowo (bershaf) 4:1; (6) bahan organik atau kompos 2 t/ha; (7) pemupukan N berdasarkan bagan warna daun (BWD); (8) pemupukan P dan K berdasarkan status hara tanah serta pemecahan masalah kesuburan tanah apabila terjadi; (9) pengairan berselang (intermittent irrigation); (10) pengendalian gulma secara terpadu; (11) pengendalian hama dan penyakit secara terpadu (PHT); dan (12) panen beregu dan pasca panen menggunakan alat perontok.

Dalam pelaksanaannya tidak semua komponen teknologi ini diterapkan sekaligus, utamanya di lokasi yang memiliki masalah spesifik. Namun ada 6 komponen teknologi yang perlu diterapkan (compulsory) secara bersamaan sebagai penciri model PTT, yaitu: (1) benih bermutu (kemurnian dan daya kecambah tinggi); (2) varietas unggul baru yang sesuai dengan lokasi; (3) bibit muda (<21 hari setelah sebar) apabila kondisi lingkungan memungkinkan; (4) bibit ditanam 1-3 batang per lubang; (5) pemupukan N berdasarkan BWD; dan (6) pemupukan P dan K berdasarkan status hara tanah serta pemecahan masalah kesuburan tanah apabila terjadi. Jika diterapkan secara bersamaan, keenam komponen teknologi ini besar sumbangannya terhadap peningkatan produktivitas padi sawah dan efisiensi produksi. Semoga !. Ir. Atman Roja. Peneliti Madya pada BPTP Sumbar, tinggal di Sukarami Solok


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: