Oleh: atmanroja | 4 Juni 2009

KETIKA GUBERNUR MENGELUARKAN SERUAN


”Melaksanakan pertanian terpadu antara tanaman dan ternak menjadi pilihan utama dalam berusahatani”. Begitu bunyi salah satu dari tujuh poin seruan Gubernur Sumatera Barat –H.Gamawan Fauzi, SH, MM- kepada seluruh masyarakat yang disebarkan dalam bentuk pamflet ke seantero Sumatera Barat pada bulan Juni yang lalu. Tentu saja latar belakang seruan ini berhubungan erat dengan kondisi pertanian saat ini, khususnya di Sumatera Barat. Mahal dan langkanya pupuk buatan, penggunaan pestisida yang berlebihan, dan pemeliharaan ternak yang belum menerapkan konsep budidaya ternak diduga menjadi salah satu pemicu Gubernur megeluarkan seruan ini. Menurut Gubernur, seruan ini bertujuan mewujudkan kesejahteraan dan kemadirian petani serta pelestarian lingkungan melalui peningkatan efisiensi usahatani, mengurangi ketergantungan terhadap sarana produksi sintetis, dan peningkatan mutu produksi pertanian. Diharapkan semua pihak, baik pemerintah maupun non pemerintah, dapat mengambil langkah-langkah kongkrit untuk mengimplementasikan seruan ini. Berkaitan dengan hal tersebut di atas, lebih dini perlu menambah wawasan masyarakat tentang sistem pertanian terpadu antara tanaman dan ternak. Pengetahuan masyarakat khususnya petani tentang sistem ini mungkin masih rendah. Diharapkan tulisan ini dapat membantu sehingga sistem pertanian terpadu tidak hanya sebatas seruan atau wacana, namun diaplikasikan oleh masyarakat tani. Badan Litbang Pertanian melalui Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat yang berkantor di Sukarami Solok sudah sejak lama mengkaji dan mengembangkan sistem pertanian terpadu yang dikenal dengan nama Sistem Integrasi Tanaman-Ternak (Crop Livestock System, disingkat CLS). Bahkan BPTP Sumatera Barat melalui Komisi Teknologi Pertanian Sumatera Barat telah merekomendasikannya dalam bentuk paket teknologi pertanian spesifik lokasi pada tahun 2004 dengan judul teknologi ”Integrasi Usahatani Tanaman Pangan dan Sapi (In Papi) Lokal Pesisir”. CLS merupakan salah satu alternatif dalam meningkatkan produksi tanaman pangan, daging, susu, dan sekaligus kesejahteraan petani. Ada tiga komponen teknologi utama dalam CLS, yaitu: (a) teknologi budidaya ternak, (b) teknologi budidaya tanaman pangan, dan (c) teknologi pengolahan jerami dan kompos. Inovasi dalam budidaya ternak adalah pengandangan ternak dengan pola kelompok yang dibarengi dengan aplikasi teknologi budidaya ternak, termasuk strategi pemberian pakan. Teknologi budidaya tanaman dikaitkan dengan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT), khususnya tanaman pangan seperti padi dan jagung. Teknologi penyimpanan dan peningkatan mutu gizi jerami (fermentasi dan amoniasi) sebagai pakan ternak menjadi salah satu kunci keberhasilan CLS, disamping teknologi pengolahan dan pemanfaatan kompos untuk meningkatkan kesuburan lahan. Keunggulan teknologi CLS, antara lain: Pertama, limbah ternak baik berupa kotoran (feses) maupun air seni (urine) dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Seekor sapi dapat menghasilkan feses sebanyak 8-10 kg per hari. Setelah diproses, dapat dihasilkan 4-5 kg pupuk organik. Sementara itu, Kadispertahorti Sumatera Barat –Ir.Djonni- dalam Harian Singgalang tanggal 12 Agustus 2006 menyatakan bahwa dua liter urine kambing sama kadar nitrogennya dengan dua kilogram pupuk urea. Dengan demikian, untuk pemupukan tanaman, petani tidak harus tergantung pada pupuk buatan (anorganik). Kedua, limbah tanaman terutama jerami padi dan jagung dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan pupuk organik (kompos). Produksi jerami padi bisa mencapai 5-8 ton per hektar untuk setiap kali panen, bergantung pada lokasi dan varietas yang ditanam. Jerami padi ini dapat digunakan sebagai pakan sapi dewasa sebanyak 2-3 ekor sepanjang tahun. Pada lokasi dengan pola tanam dua kali padi setahun produksi jerami dapat memenuhi kebutuhan pakan untuk 4-6 ekor sapi. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa jerami padi yang telah difermentasi, kualitasnya tidak kalah dibanding rumput gajah. Pengkajian yang dilakukan BPTP Sumatera Barat pada sapi lokal pesisir mendapatkan bahwa pemberian jerami padi fermentasi dan pakan tambahan dapat meningkatkan berat sapi dari rata-rata 0,3 menjadi 0,7 kg/ekor/hari. Selain itu, usahatani padi dapat menghasilkan dedak sebagai salah satu komponen pakan ternak. Sementara itu, hijauan jagung dapat diberikan langsung pada ternak. Pada saat pertumbuhan tongkol jagung sudah sempurna, daun jagung dapat dipangkas dan diberikan langsung pada ternak. Pada saat panen, batang jagung juga dapat dijadikan pakan ternak atau dijadikan kompos dengan cara membenamkan diantara bedengan (dikenal dengan teknologi Kompos Langsung Dilahan, disingkat KLD), seperti yang biasa dilakukan petani jagung di Kecamatan Rambatan Kabupaten Tanah Datar. Ketiga, sebagai penghasil daging. Dengan teknologi CLS diperoleh tambahan berat badan sapi 0,4-0,8 kg/hari atau 150-300 kg/ekor/tahun. Bila dalam kawasan 100 hektar sawah dipelihara 100 ekor sapi maka diharapkan akan ada tambahan berat badan sapi sebesar 15-30 ton. Jika harga daging saat ini Rp.50.000 per kg, maka tambahan pendapatan dari tambahan berat badan sapi sebesar Rp.0,75 sampai Rp.1,5 milyar per tahun per 100 hektar lahan sawah sebelum dikurangi biaya pemeliharaan. Keempat, dapat mengurangi masalah lingkungan. Pada beberapa daerah di Sumatera Barat, petani memiliki kebiasaan memelihara ternak secara lepas sehingga menimbulkan masalah lingkungan (kotoran yang berserakan di berbagai tempat), masalah keamanan (pencurian ternak), dan ketertiban (kecelakaan kendaraan bermotor). Pemkab Pesisir Selatan telah mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) No.22/1997 tentang penertiban hewan/ternak yang berkeliaran/lepas. Namun, Perda ini belum berjalan efektif sampai saat ini. Pengembangan teknologi CLS di daerah ini dengan pola pengandangan ternak akan dapat membantu efektivitas Perda ini. Permasalahan pengembangan teknologi CLS bagi petani Sumatera Barat adalah penguasaan lahan sawah yang sempit dan kemampuan mengusahakan ternak yang terbatas. Bila penerapan teknologi CLS diserahkan sepenuhnya pada petani secara individu maka keuntungan yang mereka peroleh tidak mencapai skala ekonomi minimum (minimum economic scale) sehingga teknologi tersebut tidak akan berkembang secara berkelanjutan. Agar komponen teknologi utama CLS dapat diintegrasikan secara sinergis maka pengembangannya harus dilakukan dengan pola kelompok. Kelompok tetap menjamin kepemilikan sawah dan ternak secara individu, namun kegiatan individu merupakan satu kesatuan dalam kelompok, seperti pengumpulan jerami, pengadaan sarana produksi, dan pemasaran hasil. Teknologi CLS dapat berkembang apabila semua pihak, baik pemerintah (Dinas Pertanian Propinsi/Kabupaten/Kota, Lembaga Penelitian/Pengkajian, Perguruan Tinggi, dan Lembaga Keuangan Pemerintah) maupun non pemerintah (Lembaga Swadaya Masyarakat, Organisasi Sosial Masyarakat, dan Lembaga Keuangan Swasta), bekerjasama secara sinergis dalam mengimplementasikan seruan Gubernur ini sehingga kesejahteraan dan kemandirian petani serta pelestarian lingkungan dapat diwujudkan. Semoga !. Ir. Atman Roja. Peneliti Madya pada BPTP Sumbar, tinggal di Sukarami Solok


Responses

  1. […] KETIKA GUBERNUR MENGELUARKAN SERUAN […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori