Oleh: atmanroja | 4 Juni 2009

BANGKIT KEDELAI


DALAM beberapa tahun terakhir produksi tanaman kacang-kacangan khususnya kedelai mengalami penurunan yang cukup signifikan sementara kebutuhan akan kedelai terus meningkat. Kondisi ini terjadi secara nasional, termasuk di Sumatera Barat.

Sejak tahun 1996, produksi kedelai di Sumatera Barat terus mengalami penurunan sampai sekarang. Tahun 1996 produksi kedelai mencapai 13.408 ton, sedangkan tahun 2004 hanya 1.575 ton. Turun secara drastis, hampir mencapai 90%. Sementara kebutuhan kedelai untuk Kota Padang saja mencapai 10 ton per hari atau 3.650 ton per tahun.

Produksi kedelai hanya tinggi pada tahun 2000 (12.686 ton), karena pada tahun sebelumnya pemerintah mencanangkan Program Aksi ”GEMA PALAGUNG” (Gerakan Mandiri Padi, Kedelai, dan Jagung) yang bertujuan menanggulangi krisis pangan akibat kekeringan, serangan hama dan penyakit, serta menurunnya produktivitas tanaman. Hal tersebut membuktikan bahwa produksi kedelai baru mengalami peningkatan jika pemerintah mencanangkan program pengembangan.

Sejak era orde baru (Orba) sampai era reformasi dan era otonomi daerah (Otoda), pemerintah telah mengeluarkan banyak program pengembangan kedelai dengan tujuan yang sama yaitu meningkatkan produksi kedelai. Pada era Orba, kebijakan pengembangan kedelai ditempuh melalui: (1) kebijakan harga yang berorientasi pada produsen; (2) pengembangan paket teknologi; (3) subsidi sarana produksi; dan (4) pengendalian impor dan perdagangan dalam negeri. Dalam era reformasi sampai era Otoda, kebijakan pengembangan kedelai terus dilanjutkan melalui berbagai program yang berorientasi peningkatan produksi seperti Gema Palagung dan program aksi (Proksi) Mantap.

Setelah Gema Palagung yang mampu mendongkrak produksi kedelai Sumatera Barat dari 8.874 ton tahun 1999 menjadi 12.686 ton tahun 2000, pemerintah mencanangkan Proksi Mantap. Namun, proksi ini tidak mampu mendongkrak produksi kedelai, bahkan terjadi penurunan produksi yang tajam dari tahun ke tahun. Dibukanya kran impor menyebabkan kedelai dalam negeri tidak mampu bersaing dengan kedelai luar negeri, baik dari segi kualitas maupun harga. Menurut Dr. Yusdar Hilman (Kepala Balitkabi Malang), keragaan kedelai tahun 2000-2003 mengisyaratkan bahwa: (1) minat petani bertanam kedelai berkurang; (2) produktivitas kedelai masih rendah; (3) implementasi teknologi inovatif sangat lambat; (4) pengimpor kedelai makin beruntung karena mendapat kredit ekspor dan L/C mundur dengan periode bayar yang panjang dari negara pengekspor; (5) kemitraan agribisnis kedelai belum berkembang; dan (6) kebijakan tarif 0%, tanpa subsidi input dan harga seperti negara pengekspor memperlemah ketahanan petani kedelai di Indonesia.

Untuk memacu kembali gairah petani mengembangkan kedelai, maka perlu kembali dicanangkan program aksi. Menurut Dr. Achmad Suryana (Kepala Badan Litbang Pertanian), perkedelaian di Indonesia pernah mengalami dua kali kebangkitan. Kebangkitan pertama, pada tahun 70-an terjadi perluasan areal tanam kedelai besar-besaran antara lain karena ditemukannya varietas unggul ORBA yang sangat disukai petani. Kebangkitan kedua, pada tahun 1983 dengan ditemukannya varietas unggul WILIS. Saat ini, cukup banyak hasil-hasil penelitian mengenai kedelai yang dapat dirumuskan untuk menuju kebangkitan kembali perkedelaian di Indonesia, khususnya di Sumatera Barat. Tantangan ke depan semakin besar. Varietas unggul saja tidaklah cukup untuk sebuah kebangkitan. Dukungan teknologi dan kebijakan pengembangan kedelai sangat diperlukan. Di Sumatera Barat ada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) yang memiliki teknologi tepat guna spesifik lokasi yang dapat dikembangkan.

Pada tahun 2006, pemerintah mencanangkan program ”BANGKIT KEDELAI”, singkatan dari Pengembangan Khusus dan Intensif. Program ini bertujuan untuk membangkitkan gairah petani dalam mengembangkan kedelai melalui upaya peningkatan produktivitas, perluasan areal tanam, kemitraan, dan lain-lain. Program Bangkit Kedelai tahun 2006 direncanakan pada luasan 649.500 ha yang terdiri dari: (1) 24.500 hektar pada pusat pertumbuhan di 19 propinsi/49 kabupaten dengan kegiatan berupa dem area; (2) 595.000 hektar merupakan pengembangan usaha di 30 propinsi/seluruh kabupaten dengan kegiatan berupa pembinaan pengembangan produksi kedelai; dan (3) 30.000 hektar merupakan pengembangan kemitraan di 9 propinsi/19 kabupaten dengan kegiatan koordinasi instansi terkait dan pembinaan.

Menurut Ir. Muhlizar Murkan (Direktur Kacang-kacangan dan Umbi-umbian), langkah-langkah operasional Program Bangkit Kedelai berupa: (1) perencanaan; (2) penetapan lokasi/petani; (3) penetapan teknologi; (4) penggunaan benih bermutu varietas unggul; (5) pemupukan berimbang, pupuk organik, dan pupuk bio; (6) pengendalian OPT; dan (7) kemitraan. Untuk mendorong keberhasilan Program Bangkit Kedelai ini perlu adanya dukungan kebijakan dari sesi: (1) Hulu berupa ketersediaan sarana produksi dan pengairan; (2) On-farm berupa lahan, pengairan, benih, pupuk, pengendalian OPT, panen, pasca panen, dan kemitraan; dan (3) Hilir berupa harga, subsidi, pembatasan impor, tarif impor kedelai, pelabelan transgenik, dan permodalan.

Keberhasilan Program Bangkit Kedelai tentu saja tidak terlepas dari kerjasama seluruh institusi terkait sehingga KEBANGKITAN KETIGA kedelai di Indonesia umumnya dan di Sumatera Barat khususnya akan terwujud. Semoga. Ir. Atman Roja. Peneliti Madya pada BPTP Sumbar, tinggal di Sukarami Solok


Responses

  1. kalo di padangn lokasi industri kedelai dan jagung di mana y pa……..tolong dibalas yyyy penting ….terimakasih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: