Oleh: atmanroja | 3 Juni 2009

“HATI-HATI” DALAM MENGEMBANGKAN JARAK PAGAR


Pro dan kontra tentang peluang pengembangan tanaman jarak pagar (Jathropa curcas L.) di Sumatera Barat masih saja terjadi. “Sumbar jangan bermimpi kembangkan tanaman jarak”, begitu bunyi berita Singgalang (24/8 lalu), dengan nara sumber Dr.Ir.H.Darwis SN (Mantan Kapuslitbang Tanaman Industri Bogor). Diikuti oleh berita “Jarak pagar cocok di Sumbar” pada Singgalang (30/8), dengan nara sumber Ana Maryenti (Kasi Produksi Dinas Perkebunan Sumatera Barat). Bagaimana sebenarnya?. Ikuti paparan berikut ini!.

Sejak disepakatinya pelaksanaan gerakan nasional budidaya jarak pagar pada Rakor Kesra tanggal 6 September 2005 lalu, diikuti Inpres No.1 Tahun 2006 tentang “penyediaan dan pemanfaatan bahan bakar nabati (biofuels) sebagai bahan bakar lain, telah banyak pemerintah daerah menyatakan kesediaannya untuk segera bertanam jarak pagar. Bagaimana tidak, dari informasi yang banyak di internet, pohon yang dapat menghasilkan minyak ini selain cocok pada kondisi tanah gersang atau lahan kritis juga mampu meningkatkan pendapatan petani, dengan hasil bersih sebesar Rp.4,4 juta per hektar per tahun, sedikit lebih tinggi dari usahatani kelapa sawit (Rp.4,37 juta per hektar per tahun) dan tebu (Rp.3,8 juta per hektar per tahun). Selain itu, budidaya jarak pagar sudah mempunyai sasaran yang jelas yaitu untuk mengganti bahan bakar minyak (BBM) yang akan semakin langka dan mahal, sementara kebutuhan BBM semakin tinggi sehingga akan menjadi bisnis yang mahal dan akan langgeng. Dari segi penghijauan dan rehabilitasi lahan kritis, tanaman jarak pagar akan dapat menahan erosi dan mengurangi karbon yang mengotori udara.

Di Pulau Jawa, seperti ”Dulang Mas” (Kedu, Magelang, Banyumas), ”Joglo Semar” (Jogya, Solo, Semarang), dan “Cindera Mata Sunda” (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Tasikmalaya, dan sekitarnya) saat ini sudah menyiapkan lahan untuk pengembangan jarak pagar.  Sedangkan NTT dan Gorontalo akan mengembangkan jarak pagar ribuan hektar.

Propinsi Sumatera Barat juga tidak ketinggalan dalam pengembangan jarak pagar. Menurut Ana Maryenti, jarak pagar sangat cocok dikembangkan pada lahan terlantar di Sumatera Barat. Pemerintah Propinsi Sumatera Barat sudah merencanakan pengembangannya seluas 35 ribu hektar yang dibagi dalam beberapa tahap. Langkah awal difokuskan pada program demplot/kebun percontohan seluas 25 hektar, tersebar di Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Sawahlunto, Kabupaten Pasaman, dan Kabupaten 50 Kota, dengan biaya Rp.120 juta dari APBN. Sementara itu, untuk kebun rintisan direncanakan masing-masing seluas lima hektar di Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Solok, Kabupaten 50 Kota, dan Kabupaten Dharmasraya. Selanjutnya, pada tahap pengembangan direncanakan kebun induk seluas 10 ribu hektar di Sukarami Solok. Bibit unggul akan didatangkan dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Perkebunan (Puslitbangbun) Bogor.

Kekhawatiran pengembangan jarak pagar di Sumatera Barat pertama kali dimunculkan oleh Dr.Ir.H. Darwis SN. Putra Palupuah Kabupaten Agam ini meminta Sumatera Barat untuk tidak bermimpi mengembangkannya karena tidak cocok dengan iklim daerah yang lembab dan banyak hujan. Menurut ahli perikliman ini, tanaman jarak pagar hanya cocok ditanam di lahan beriklim kering, seperti di kawasan Timur Indonesia (NTT, NTB, Bali, Jawa Timur, dan sebagian Jawa Tengah).

Dilihat dari daerah penyebaran, tanaman jarak pagar dapat tumbuh di daerah tropis dan sub tropis pada ketinggian 0-2000 meter di atas permukaan laut dengan suhu optimum 20-35 derajat Celcius. Dalam hal ini, Sumatera Barat berpeluang untuk pengembangan tanaman jarak pagar.  Faktor utama yang berpengaruh terhadap tanaman adalah intensitas hujan, hari hujan per bulan, dan panjang bulan basah. Kekhawatiran kita dan mungkin juga Dr. Darwis berdasarkan bahwa  tanaman jarak pagar memerlukan iklim kering dan panas terutama pada saat berbunga dan berbuah. Intensitas hujan yang tinggi dalam bulan-bulan basah akan mempengaruhi produksinya.

Tentu saja kekhawatiran ini tidak perlu menyurutkan kita untuk mengembangkan jarak pagar, karena tanaman ini sudah ada di sejumlah daerah di Sumatera Barat sejak dulu. Tinggal bagaimana menjadikan tanaman jarak pagar yang ada di Sumatera Barat ini menjadi sumber bibit unggul. Mendatangkan bibit dari daerah bukan asalnya bisa saja mendatangkan kegagalan karena diperlukan adaptasi dengan lingkungan tumbuh baru. Menseleksi dan mengkoleksi tanaman jarak pagar rakyat sebagai sumber benih unggul merupakan salah satu solusi terbaik. Kerjasama Dinas Perkebunan dengan pemulia tanaman yang ada di Lembaga Penelitian/Pengkajian dan Perguruan Tinggi sangat diperlukan demi suksesnya pengembangan tanaman jarak pagar di Sumatera Barat.

Menarik disimak apa yang dirumuskan dari hasil seminar dan dialog di Badan Litbang Pertanian Jakarta, Februari lalu. Seminar yang bertajuk ”Biodiesel: Kembalilah kejalan yang benar” bertujuan memberikan kejelasan akan kesimpangsiuran informasi di masyarakat mengenai jarak pagar. Sebuah contoh, di atas dinyatakan budidaya jarak pagar dapat memberikan keuntungan bersih sampai Rp. 4,4 juta/ha/tahun. Sementara itu, hasil penelitian PT Biofuel Indonesia mendapatkan hasil pohon jarak pagar hanya Rp.5 juta per hektar per tahun sedangkan biaya produksi diluar tenaga kerja bisa mencapai Rp.3,5 juta per hektar per tahun.

Hal yang hampir senada juga disampaikan oleh Dr. Bambang Prastowo saat berdiskusi dengan penulis dalam perjalanan dari Sukarami Solok menuju Sawahlunto bulan Mei lalu. Kepala Puslitbangbun Bogor ini meminta masyarakat tidak terlalu terburu-buru atau membabi buta untuk bertanam jarak pagar. Perlu analisis yang matang sebelum memulai usaha tersebut sehingga tidak menimbulkan kekecewaan di kemudian hari. Minimnya informasi budidaya termasuk didalamnya potensi hama penyakit, serta penggunaan bibit merupakan faktor yang sangat perlu menjadi pertimbangan pemerintah daerah dan masyarakat. Seperti diketahui, sampai saat ini belum ditemukan varietas unggul jarak pagar. Badan Litbang pertanian baru akan melepas varietas unggul tahun 2007. Bibit yang dijual pedagang bibit  sekarang ini lebih banyak bibit asalan yang belum bisa dijamin tingkat keberhasilannya. Artinya, mari kita berhati-hati dalam pengembangan tanaman jarak pagar. Ir. Atman Roja. Peneliti Madya pada BPTP Sumbar, tinggal di Sukarami Solok


Responses

  1. Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.

  2. mo tanya neh, kra2 bwt pnelitian jarak, bgusny mlih apanya ya???

  3. sudah dimana sajakah di area sumatra yang bisa dilihat hasil panennya secara besar besaran.saya berminat untuk melihat lebih jauh perkembangan jarak pagar di sumatra.
    silakan email saya di yuliar@waterlandasiabio.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori