Lai amuah kami batanam kedelai, tapi lai bisa apak manjamin urang nan kamambalinyo? (Kami mau bertanam kedelai, tetapi bisakah bapak menjamin adanya pembeli?). Demikian celoteh sebagian besar petani di Sumatera Barat ketika disarankan untuk membudidayakan kembali tanaman kedelai pada lahan-lahan mereka yang terlantar dan berpotensi untuk memproduksi kedelai.

Baca Lanjutannya…

Salah satu komoditas ekspor Propinsi Sumatera Barat adalah manggis. Namun, hanya 20% produksi manggis Sumatera Barat yang memenuhi kualitas ekspor. Sisanya dipasarkan di dalam negeri berupa kualitas BS (Bekas Sortiran). Untuk meningkatkan nilai tambah manggis kualitas BS, memperpanjang umur simpan, antisipasi anjloknya permintaan buah segar, dan memperluas pemasaran diperlukan suatu teknologi, antara lain pengolahan manggis.
BPTP Sumatera Barat telah menghasilkan empat jenis teknologi pengolahan manggis, salah satunya xanthones manggis. Teknologi ini telah diusulkan hak patennya Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual melalui Kantor Pengelola Kekayaan Intelektual dan Alih Teknologi di Bogor. Nomor pendaftaran paten untuk produk xanthones manggis adalah P00200600765. APA ITU XANTHONES? Baca Lanjutannya…

Kota Solok merupakan salah satu Kota kecil yang sangat potensial untuk dikembangkan. Kota ini juga berupa kota persimpangan dan persinggahan, karena untuk menuju wilayah lain di Sumatera Barat harus melalui Kota Solok, misalnya masyarakat Dharmasraya, Sawahlunto, dan Sijunjung yang ingin ke Kota Padang. Selain itu juga termasuk reute Trans Sumatra.
Dalam rangka memajukan Kota Solok dalam lima tahun ke depan, penulis mempunyai beberapa saran untuk calon-calon pemimpin di Kota Solok yang akan bertarung menjadi pimpinan periode 2010-2015. Mudah-mudahan saran ini dapat sebagai masukan hendaknya.

Baca Lanjutannya…

Oleh: atmanroja | 30 November 2009

PENGOLAHAN SUSU JAGUNG

Tanaman jagung merupakan salah satu bahan makanan pokok yang memiliki kedudukan penting setelah beras bagi masyarakat Indonesia. Selain itu, jagung juga merupakan sumber bahan baku bagi sektor industri termasuk industri pangan.
Sampai saat ini di Sumatera Barat jagung muda sebagian besar dikonsumsi dalam bentuk jagung rebus dan olahan kue basah. Sedangkan jagung tua hanya diolah menjadi tojin dan sebagian besar dimanfaatkan untuk bahan pakan. Penganekaragaman olahan perlu dilakukan untuk peningkatan nilai tambah dan pendapatan rumah tangga petani. Selain jagung rebus, kue basah dan tojin, jagung dapat diolah menjadi susu jagung, bubur susu jagung, cornghurt, yogurt, corn flakes dan lain-lain. Di Thailand, salah satu usaha agar jagung manis mempunyai nilai tambah adalah melalui proses pengolahan menjadi corn milk (susu jagung). Susu nabati seperti susu jagung, dibutuhkan terutama bagi seseorang yang alergi terhadap susu sapi. Baca Lanjutannya…

Oleh: atmanroja | 26 November 2009

SUMATERA BARAT AKAN KEMBANGKAN KACANG TANAH

Dalam berita harian umum independen Singgalang tanggal 21 November 2009, Direktur Budidaya Kacang-kacangan dan Umbi-umbian Departemen Pertanian – Ir.Muchlizar Murkan Dt. Parpatiah- menyatakan bahwa Sumatera Barat pada tahun 2010 akan mengembangkan kacang tanah seluas 4.000 hektar dari 50.000 hektar di Indonesia. Kabupaten yang mendapat jatah dalam pengembangan tersebut adalah Tanah Datar (750 ha), Agam (500 ha), Pasaman (500 ha), Pasaman Barat (500 ha), Solok Selatan (500 ha), dan Pesisir Selatan (750 ha).
Selain itu juga disampaikan bahwa program swasembada kedelai di Indonesia akan direalisasikan dengan budidaya kedelai di seluruh Indonesia seluas 250.000 hektar pada tahun 2004.
Mari kita sambut program tersebut sehingga ketergantungan Indonesia terhadap impor komoditas kacang-kacangan dapat digantikan menjadi negara pengekspor.

Oleh: atmanroja | 8 Juni 2009

MENGURANGI KETERGANTUNGAN PETANI

“Inovasi Teknologi Pertanian yang banyak tersedia, masih rendahnya kemampuan penyuluh dalam menyerap seluruh inovasi teknologi pertanian yang tersedia, dan masih tingginya ketergantungan petani pada pihak lain untuk mengambil keputusan dalam berusahatani” merupakan tiga sisi yang saling berkaitan. Sebagai contoh: ketika petani ingin mengetahui jenis hama/penyakit yang merusak tanamannya dan teknologi pengendaliannya, petani akan menghubungi penyuluh atau pihak lain, dan ketika penyuluh kurang memahami permasalahan ini, mereka akan menghubungi para pakar (peneliti). Siklus ini membutuhkan waktu yang cukup lama, sementara tanaman di lapangan sudah habis terserang. Dalam rangka mengurangi ketergantungan petani pada pihak lain untuk pengambilan keputusan dalam menjalankan usahataninya, perlu terobosan-terobosan baru. Apa itu?. Baca Lanjutannya…

Oleh: atmanroja | 6 Juni 2009

MENSIASATI MAHAL DAN LANGKANYA PUPUK BUATAN

”Alah maha, langka pulo lai”. Begitu cilotehan petani Sumatera Barat manakala menemukan situasi sulitnya mendapatkan pupuk buatan atau kalau ada tersedia di pasar, harganya relatif mahal. Baca Lanjutannya…

Oleh: atmanroja | 5 Juni 2009

MENSIASATI LANGKANYA BURUH TANI

Karatau madang di ulu, babuah babungo balun, marantau dagang dahulu, di rumah paguno balun. Pantun di atas menggambarkan budaya turun temurun masyarakat Minangkabau yang suka merantau. Banyak nilai positif yang didapat dari budaya merantau. Namun disisi lain, ada juga dampak negatifnya terhadap perkembangan pembangunan pertanian di Sumatera Barat, utamanya terbatasnya tenaga kerja (buruh tani) untuk usaha bidang pertanian di pedesaan. Baca Lanjutannya…

Oleh: atmanroja | 4 Juni 2009

BANGKIT KEDELAI

DALAM beberapa tahun terakhir produksi tanaman kacang-kacangan khususnya kedelai mengalami penurunan yang cukup signifikan sementara kebutuhan akan kedelai terus meningkat. Kondisi ini terjadi secara nasional, termasuk di Sumatera Barat. Baca Lanjutannya…

Oleh: atmanroja | 4 Juni 2009

STRATEGI PENGEMBANGAN KEDELAI DI LAHAN MASAM

PRODUKSI kedelai nasional pernah mencapai puncaknya tahun 1992, sebanyak 1.869.713 ton dengan luas panen 1.665.706 hektar. Setelah itu, produksi dan luas panennya terus menurun hingga hanya 677.531 ton dari 530.249 hektar pada tahun 2003. Dengan demikian, dalam 11 tahun, produksi kedelai merosot 63,76 persen dan luas panen berkurang 68,16 persen. Kondisi di Sumatera Barat malah menunjukkan penurunan produksi kedelai yang drastis, mencapai 90 persen (tahun 1996 produksi 13.408 ton dan tahun 2004 hanya 1.575 ton). Baca Lanjutannya…

Older Posts »

Kategori